Wednesday, March 30, 2016

Istri : Pendamping atau Pembantu?

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Bismillah.

Apa kabar sobat? Semoga senantiasa selalu di dalam lindungan Allah. Hari ini aku sedikit tergelitik membicarakan topik yg akan aku tulis pada kesempatan ini. Berawal dari pembicaraanku dengan salah seorang sepupu. Pembicaraan ringan yg menarik, namun bukan gosip. Karena kami bukan tukang gosip hehe.

Dia bercerita katanya, sempat mendengar pembicaraan yg sedang digunjingkan oleh para orangtua di lingkungan sekitar rumah kami, tentunya dari kalangan ibu-ibu rumpi. Mereka berbicara tentang rumah tanggaku, lebih pada caraku dalam "melayani" suami yg berbeda dari kebanyakan orang. Misalnya saja, ketika pagi hari seorang istri harusnya menyiapkan secangkir teh atau kopi untuk suami. Tapi tidak denganku. Aku tidak pernah membuat teh atau kopi untuk suamiku, kecuali dia yg meminta.

Kebetulan keluarga suamiku tinggal tidak jauh dari rumah tempat tinggal kami. Ibu mertua dan sanak saudaranya sering datang kerumah sekedar hanya menengok anak kami yg menjadi cucu pertama mereka. Dan ternyata mereka membicarakan perihal aku "mengurus" suamiku yg terkesan tidak becus.

Oke dari sini kita lihat sobat, apakah menjadi suatu dosa bahwa aku hanya membuat teh atau kopi ketika suamiku meminta? Apakah ada dalil yg jelas atau secara tidak langsung menyebut perbuatan ini dosa atau haram?

Seperti yg aku dan kalian tahu, dalil yg mengatur hanya seputar ketaatan istri kepada suami. Apakah membuat teh dan kopi ketika suami meminta termasuk dari perbuatan yg tidak taat?

Sekali lagi jawabannya adalah adat. Ya, selama ini masyarakat kita kebanyakan menganggap bahwa mentaati dan melayani suami sama hal nya dengan menjadi pembantu suami. Banyak sekali kita temukan kehidupan rumah tangga yg memposisikan suami sebagai raja, sedangkan istri sebagai pembantu. Istri harus memasak, melayani semua keperluan suami sampai ada yg mengambilkan baju untuk suami, istri harus menyetrika, menjemur, mengurus anak. Jika lihat fenomena diatas lalu dimana Islam yg mengangkat derajat wanita?

Sebenernya banyak hadis dan ayat Al Quran yang salah dipahami oleh masyarakat kita. Dan banyak juga orang yg memanfaatkan kesalahpahaman itu karena mereka merasa diuntungkan. Jika melihat sekali lagi pada fenomena diatas, dimana sisi keadilan untuk para istri?

Istri adalah pendamping suami, bukan pembantu. Jika suami adalah raja, istri adalah ratu. Memang tidak dipungkiri kita harus mentaati perintah suami selama perintahnya tidak menjuruskan ke hal yg melakukan perbuatan dosa atau maksiat. Kewajiban kita mentaati dan menghormati suami sebagai kepala rumah tangga. Taat dan hormat kepada suami bukan melulu tentang menyiapkan sarapan, mengambil pakaian, menyediakan secangkir teh di pagi hari yg selama ini menjadi presepsi orangtua kita sebagai parameter ketaatan istri pada suami.

Taat pada suami bisa saja dengan mentaati perintahnya yg menyuruh dan mengingatkan kita kepada Allah. Seperti sholat, berpuasa, mengurus anak dengan baik. Bukan melulu soal dapur. Jika seorang suami menyuruh memasak, tapi istri tidak mampu, suami bahkan tidak boleh memaksa istrinya untuk memasak.
Karena dalam sebuah hadis dan pendapat imam madzhab, istri wajib "melayani" suami dalam urusan seksual nya saja. Selain itu istri tidak wajib. Bahkan ada pendapat para iman madzhab, jika istri tidak mampu mengurus semua pekerjaan rumah tangga nya seperti mencuci, memasak, suami wajib menyediakan pembantu untuk meringankan pekerjaan istri.

Jadi, bagaimana menurut kalian? Selama suami tidak merasa keberatan dan tidak mengeluh dengan "cara kita melayani" kita tidak berbuat dosa. Parameter istri taat adalah istri yang seperti pembantu saat dirumah harus diubah. Alangkah baiknya jika istri dan suami saling bekerja sama dalam urusan rumah tangga. Kebanyakan mindset orangtua selama ini istri harus melakukan semua pekerjaan rumah sendiri. Istri punya derajat yg lebih rendah dari suami. Tentunya mindset ini harus diubah, karena sangat merugikan posisi seorang istri dalam rumah tangga.

Nah mindset suami juga perlu diubah, karena banyak suami yg kipas kipas dan oncang oncang kaki karena pendapat ini. Suami yg baik yg mau menolong istrinya. Mmbantu istrinya saat kesulitan. Bukan cuek bebek. Istri lagi memasak, anak menangis, suami asyik ngopi plus baca koran. Ckck. Memang menjaga anak bukan tugas dari suami? Suami itu kan orang tua, setiap orangtua berhak menjaga anak anaknya. Bukankah jadi suami harus bijak? Sebagian para suami jadi merasa diatas angin dengan mindset ini.

Alhamdulillah, Suami dan saya berbagi tugas dalam menjalankan tugas rumah tangga. Misalnya saya mencuci, dia menjemur. Saya menyetrika, dia yg memasukkan baju ke dalam lemari pakaian. Bukankah pernikahan yg baik didasari oleh kerjasama pasangannya? Kerjasama yg dilakukan jangan hanya cerdas di ranjang. Tapi kerjasama yg meringankan, saling tolong menolong baik susah maupun senang. Tetapi suami saya hanya bisa membantu saat libur. Terkadang, dia tidak tega melihat saya awut awutan setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi dia menyuruh saya untuk melakukannya ketika dia sedang libur bekerja. (Makin sayang dan cinta abiiiii).

Bekerjasama dalam rumahtangga banyak manfaatnya loh. Selain makin menmbahkan kekompakan, kami merasakan lelah bersama. Tumbuh rasa cinta dan sayang disetiap harinya. Segala sesuatu yg dikerjakan bersama pasti akan menimbulkan rasa suka dan duka bersama. Ya kan?

Oleh karena itu, ibu ibu posesif yg tukang gosip tolong ya bu diurus saja rumah tangganya. Saya dan suami menerapkan hukum syariah, bukan hukum adat. Alhamdulillah suami saya orangnya baik, pengertian mau membantu istri. Barangkali ibu ibu begini suaminya ribet, yg pakaian dalam saja minta diambilin hihi. Soal teh kenapa saya tidak pernah siapkan? Suami saya tipe orang yang minta dulu baru diminum, kalo ga minta suka ga diminum jadi mubazir. Makanya saya ga pernah buatin kalo dia ga minta. Wong suami saya aja ga repot, kok kalian repot?

Wassalam.

Wednesday, March 9, 2016

Start From Zero

Selamat pagiiii. Semangat yaaaa masih pagi loh masa udah lesu? Mumpung suami dan anak masih tidur jadi aku bisa sempetin nulis sedikit hihi.

You know guys? Aku orang yg paling ga betah banget diem. Setelah menikah aku merasa so boreeeeed. Very bored. Tadinya aku kerja di salah satu bank swasta ternama d indonesia B*A. Tapi setelah menikah krn beberapa hal aku memutuskan untuk resign dari pekerjaan. Jam kerja aku dan suami terbilang bertabrakan. Jadi kalo aku tetep maksa buat kerja, aku dan suami hanya bisa bertemu di hari minggu aja. Duh ga mungkin kan aku ga ngurus suamiku. Yaudah jadilah aku ibu rumah tangga tok.

Sehari, seminggu dan sebulan diem dirumah. Ga ada kegiatan apapun selain beres2 rumah, tidur, makan dan nunggu suami pulang kerja. Itu aja rasanya bete bukan kepalang. Maklum wanita karir supersibuk banting stir jadi ibu RT yg super santai jd ga nyaman aja. Kabar bahagia pun datang. Kami akan segera dapet momongan anak pertama. Wah luar biasa senengnya. Kami menyambut kehamilan anak pertama kami dgn bahagia.

Tapi entah kenapa, kehamilanku tak menghilangkan rasa jenuhku diem dirumah. Suatu hari aku belanja online via instagram. Waktu itu aku beli hijab. Harganya murah dan bahannya bagus. Seakan otakku berbunyi "cling"! Aku ingin berjualan hijab via online. Kenapa tidak sempat terpikir olehku dari kemarin. Aku bisa tetap beraktifitas walau dirumah. Aku ga akan hanya duduk berpangku tangan, menunggu awal bulan untuk dapet jatah dari suami. Aku bisa menghasilkan uangku sendiri lewat jualan.

Jualan sepertinya sudah menjadi hobiku dan sudah mengakar di dalam keluargaku (akan aku share di post berikutnya). Akhirnya aku mengutarakan kenginanku pada suami. Awalnya dia menolak, takut aku cape katanya. Tapi aku mencoba meyakinkan dia dan akhirnya berhasil. Aku mulai searching di gugel apa saja mode hijab yg sedang hitz di tahun lalu. Debut olshop ku saat itu dimulai ditahun 2015.

Awalnya aku tidak berani mengambil resiko. Aku memilih untuk menjadi reseller di olshop tempatku membeli hijab kemarin. Aku tanya rules untuk menjadi reseller. Caranya cukup mudah. Hanya memenuhi minimal pembelian 8pcs dan aku akan mendapat potongan seharga 2000/pcs dari harga normal. Sedikit sih tapi tak apalah.

Disaat olshop itu mengeluarkan hijab model terbaru, aku langsung mengupload model hijab di instagram olshop ku juga. Waktu itu followernya baru puluhan itupun temen temen yg kenal aja hehe. Aku juga membuat grup bbm. Seminggu berjalan hanya ada sekedar tanya tanya dari pembeli sepertinya mereka masih ragu. Aku pasang harga 40ribu/hijab.

Setiap hari aku coba pendekatan kepada teman teman terdekatku dan meyakinkan mereka akan produk hijabku yg bagus dan sesuai dengan harga. Akhirnya satu per satu pembeli berdatangan. Dalam waktu 2 minggu penjualan hijabku hanya 10 pcs hijab.

Dan ada kejadian dimana hijab yg aku ambil ternyata cacat. Dan baru ketauan cacat saat si pembeli komplein. Wah baru pertama udah beri kesan yg ga baik membuatku jadi super panik. Salahku juga sih tidak teliti saat menerima barang dari supplier. Aku tidak sempet memeriksa, setiap hijab yg aku pesan diantar, aku langsung kirim ke pembeli. Akhirnya aku minta maaf dan berjanji akan mengganti hijabnya.

Aku komplein ke supplier. Aku bilang hijab ada yg cacat dan aku ingin menukar dgn hijab yg sama. But you know guys? Mereka bilang tidak bisa dituker krn itu juga bukan kesalahan mereka. Bahan cacat itu mereka dapet dari garmen. Jadi mereka ga bertanggung jawab. Loh gimana ini? Baru mulai udah rugi, udah dpt komplein. Aku langsung komplein ke ownernya. Awalnya itu owner juga ga ngasih nuker, dia bilang cuma bisa refund uang. Itupun setengah dr harga beli. Aku bersikeras untuk tuker barang dengan barang yg sama. Akhirnya diperbolehkan setelah perdebatan yg panjang. Sialnya model hijab yg sama itu sudah sold dan ga restock. Akhirnya aku ganti dgn yg model lain. Dan aku mengganti hijab cacat itu dengan mode hijab yang lain dan aku beri diskon ke customer itu sebagai permohonan maaf. Kasus pun selesai.

Sempet down sih ternyata jualan online itu ga segampang yg dibayangin. Nerima komplein dari customer. Terus bisa dapet follower ribuan dan miliaran juga ga gampang. Tapi suami selalu menyemangati aku.

Aku pun terus melancarkan strategi marketing hingga seminggu bisa menjual 15pcs hijab. Kemajuan yg bagus walaupun belum terbilang besar. Tapi setidaknya aktifitas ini menghilangkan rasa jenuhku dirumah.

Awalnya olshop yg aku buat bernama ICONIC HIJAB. Tetapi setelah dievaluasi aku mengganti nama menjadi QISTI SCARF. Nama dari keluarga besarku. Bagaimana kelanjutan kisah qisti scarf? Apa masih eksis sampai sekarang? Tunggu postingan aku berikutnya ya 😊

COMEBACK FOR WRITE

Bismillah.
Assalamualaikum Wr. Wb.

Hello everyone, i'm totally comeback for writting. Gatau kenapa tibatiba kangen nulis dan kepingin nulis. Di kepala udah banyak banget ratusan memori yg mau diceritain ke kalian. Ya walaupun sebenernya 90% dari tulisanku adalah pengalaman hidup aku. But, aku harap itu bisa jadi pelajaran untukku dan orang lain. You know the best teacher in life is an experience. So, learn from it. Dont forget your experiences. Because its very important for your future life.

Seneng banget bisa kembali untuk nulis di blog ini. Udaj ga sabar mau berbagi dengan kalian apa yg udah aku laluin selama ini. Semoga bisa jadi inspirasi atau syukur syukur bisa memotivasi kalian. Ataupun jika tidak keduanya, kita bisa sharing tentang ilmu yg sudah kita dapat dari hidup. Aku kembali menulis. Akan dan selalu menulis. Lets share! Lets built your creativity with write, guys!

With spirit of writting,
Shafira.